Self-Handicapping, Perilaku Mengagalkan Diri Demi Perlindungan Diri
![]() |
| Sumber gambar: Pixabay/Geralt |
Pernahkah kamu
melihat orang menolak melakukan sesuatu karena mereka takut gagal? contohnya
ada seseorang menolak mengikuti perlombaan karena takut gagal padahal seseorang
tersebut memiliki kemampuan dan potensi untuk menang
Ya, orang tersebut melakukan hal itu hanya karena
takut dirinya gagal. Pernah kamu melihat fenomena tersebut pada orang-orang
sekitarmu, atau mungkin malah kamu yang justru melakukan tindakan mengagalkan
diri tersebut?
Fenomena dibalik seseorang melakukan perilaku mengagalkan diri tersebut dinamakan self-handicapping. Self-handicapping merupakan perilaku yang tidak tepat dilakukan karena akan menghambat dan mengagalkan diri dalam melakukan tugas dan pekerjaan.
Table of Contents
Pengertian Self-Handicapping
Dalam bahasa Indonesia, kata self memiliki arti diri, sedangkan handicapping memiliki arti penghambat, cacat atau kekurangan. Jadi keluruhannya kata self-handicapping bisa diartikan sebagai penghambat diri, sebuah perilaku menyabotase diri sendiri
Istilah self-handicapping pertama kali dicetuskan
oleh seorang psikolog Edward E. Jones dan Steven Berglas pada tahun 1978.
Mereka mendefinisikan self-handicapping sebagai
tindakan untuk mengurangi performa dan membuat hambatan dalam usaha yang dilakukan, hal tersebut dilakukan sebagai alasan
untuk menyerah dan mengagalkan diri. Konsep ini merupakan strategi kognitif
individu untuk mempertahankan harga diri karena sedang menghadapi situasi yang
mengancam atas potensi kegagalan yang diperkirakan terjadi.
Self-handicapping merupakan salah
satu bentuk dari perilaku sabotase diri yang akan merugikan individu pada
berbagai aspek di kehidupannya. Self-handicapping akan memberikan dampak buruk seperti
dalam pekerjaan, tugas sekolah atau dalam kegiatan
sehari-hari sehingga hasil kegiatan yang dikerjakan menjadi tidak maksimal atau
tidak terkerjakan sama sekali.
Perilaku self-handicapping
seringkali tidak disadari oleh penderitanya, namun perilaku tersebut sering tergambarkan seperti rasa frustasi, bingung dan takut sehingga pada akhirnya menyebabkan terjadinya kegagalan. Perilaku ini jelas merugikan diri
sendiri, terutama bagi individu yang ingin berusaha mengejar mimpi dan
cita-cita. Self-handicapping ini membuat individu kurang cukup, tidak berani
mencoba sesuatu, takut gagal, dan selalu mencari banyak alasan untuk mengagalkan diri.
Penting untuk menyadari diri seorang
individu sedang melakukan self-handicapping agar bisa berhenti melakukan perilaku
menyabotase diri. Adapun perilaku self-handicapping sendiri terbagi dalam
dua jenis, yaitu:
- Behavioral
self-handicapping, yakni tindakan nyata individu yang menciptakan hambatan,
seperti kurangnya persiapan, penggunaan alkohol atau obat-obatan.
- Declarative
self-handicapping, yakni tindakan melalui pernyataan verbal yang digunakan
sebagai alasan, seperti mengklaim merasa sakit atau stres sebelum menghadapi
tugas yang menantang.
Bentuk-bentuk perilaku kecil dari self-handicapping
tersebut terkesannya sepele, malas, kurang berjuang, dan tidak
bertanggungjawab. Namun perilaku ini bisa merupakan tanda dari masalah mental dan jika dibiarkan akan membawa
kerugian besar, terutama jika dilakukan secara terus-menerus. Maka sebab itu, penting menyadari bentuk-bentuk perilaku self-handicapping.
Faktor-Faktor
Self-Handicapping
![]() |
| (pixabay.com/Mikhail Nilov) |
Faktor utama individu melakukan self-handicapping, yakni sebagai perlindungan diri atas perasaan terancam yang mengancam harga diri sehingga individu tersebut berusaha menjaga citra diri mereka dari penilaian negatif, baik itu dari sendiri maupun dari orang lain.
Individu yang melakukan
self-handicapping berusaha menciptakan banyak alasan eksternal yang dapat
menghambat dan mengurangi performa usaha kerja mereka, menciptakan keyakinan
diri bahwa mereka akan gagal meskipun pada dasarnya mereka mampu dan memiliki
potensi untuk berhasil.
Terdapat faktor-faktor yang menyebabkan
seseorang melakukan self-handicapping, antara lain:
1. Ketidakyakinan Atas Kemampuan Diri
Individu
yang merasa tidak yakin akan kemampuan diri mereka akan cenderung melakukan
self-handicapping. Mereka menyakinkan diri mereka dengan berpikir negatif
tentang diri sendiri demi mengurangi tekanan dari penilaian terhadap kemampuan
pribadi mereka.
2. Takut Akan Kegagalan
Ketakutan
ini akan mendorong individu untuk mencari berbagai cara untuk mengagalkan diri
dengan menerka-nerka hal-hal buruk yang mungkin bisa terjadi.
3. Perfeksionisme
Perfeksionisme
memiliki peran cukup besar seseorang dapat melakukan self-handicapping karena
individu tersebut memiliki standar tinggi dalam hidupnya sehingga dirinya sulit
menerima kekurangan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan yang dapat berujung pada
perilaku self-handicapping untuk menghindari penilaian negatif
4. Pengalaman Buruk di Masa Lalu
Pengalaman
buruk di masa lalu bisa menjadi akar dari perilaku self-handicapping. Seseorang
yang pernah menjadi korban perundungan atau pola asuh buruk orangtua yang suka
meremehkan anaknya bisa menjadi faktor besar akar dari penyebab
self-handicapping
5. Kesehatan Mental Buruk
Seorang
dengan kesehatan mental buruk, seperti penderita depresi dan gangguan kecemasan
sangat mungkin melakukan self-handicapping karena individu tersebut merasa
ragu, cemas, dan patah semangat dalam menjalankan kegiatan dan aktivitas pada
kehidupannya.
6. Pengaruh Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memiliki tingkat kopetisi tinggi dapat mempengaruhi seseorang melakukan self-handicapping, dimana individu tersebut berusaha menjaga citra mereka di depan orang lain dengan tidak melakukan sesuatu karena takut gagal dan jika gagal itu akan memberi citra negatif bagi diri mereka.
Cara Mengatasi
Self-Handicapping
Self-handicapping merupakan perilaku destruktif yang harus segera diatasi. Dalam mengatasi self-handicapping dibutuhkan adanya kesadaran diri dan keinginan untuk mengubah pola pikir tentang kegagalan. Berikut beberapa cara mengurangi dan mengatasi kecenderungan untuk melakukan self-handicapping:
1. Meningkatkan Kesadaran Diri
Langkah
pertama yakni dengan mengenali pola self-handicapping dengan menyadari mengapa
dan kapan individu melakukan self-handicapping untuk mulai membuat perubahan.
2. Meningkatkan Keyakinan Diri
Seseorang
dengan kepercayaan diri tinggi pasti akan yakin terhadap kemampuan sendiri dan
tidak takut mengambil resiko, maka dari itu penting untuk membangun rasa
percaya diri tinggi agar seorang individu berhenti melakukan self-handicapping.
3. Mengubah Pola Pikir tentang Kegagalan
Mengubah
pola pikir dengan melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar dan bagian
perkembangan dari usaha untuk menjadi lebih baik. Mengadopsi pandangan mengenai
kegagalan secara sehat dapat membantu mengurangi perilaku self-handicapping.
4. Berhenti Overthinking
Overthinking membuat kita tidak
fokus pada hal yang tidak penting dan cenderung membuat kita berpikir negatif.
Dengan berhenti overthinking, maka individu akan menyadari bahwa kegagalan
belum tentu terjadi sebelum mencoba
5. Berhenti Bersikap Perfeksionis
Menyadari
bahwa tidak masalah melakukan kesalahan, persiapan tidak harus seratus persen
sempurna, dan kekurangan tidak selantasnya menjadi penyebab berhenti mencoba
sesuatu.
6. Minta Bantuan Pihak Profesional
Tak ada
salahnya meminta bantuan orang-orang terpercaya, terutama pihak profesional. Pihak
profesional tidak hanya memberikan dukungan emosional, namun juga akan dibantu
mencari akar masalah mengapa individu melakukan self-handicapping dan dibantu
cari mengatasinya.
Kesimpulan
self-handicapping merupakan mekanisme perlindungan diri yang sering kali tidak disadari oleh penderitanya. Perilaku ini merupakan bentuk dari sabotase diri yang akan merugikan individu pada aspek kehidupannya. Meskipun self-handicapping dapat menenangkan individu karena dapat memberikan perlindungan jangka pendek terhadap penilaian negatif, namun dalam jangka panjang self-handicapping dapat merusak prestasi, kesehatan mental, dan hubungan interpersonal. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk menyadari dan mengatasi kecenderungan ini agar individu tersebut dapat mengurangi perilaku self-handicapping dan mencapai potensi penuh mereka.


Komentar
Posting Komentar